Jumat, 06 Juli 2012

MAKALAH MANAJEMEN PENDIDIKAN


BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sekolah sebagai tempat penyelenggaraan program pendidikan dan pengajaran, pada hakekatnya diperuntukkan bagi pengembangan watak dan kepribadian manusia yang memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan, sikap dan tingkah laku sesuai dengan kebutuhan pembangunan bangsa dan negara berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Kedudukan sekolah yang demikian penting itu menunjukkan bahwa sekolah mestilah terus ditingkatkan dan dikembangkan semaksimal mungkin baik secara kuantitas maupun kualitas. Peningkatan kuantitas dan kualitas itu sesungguhnya adalah tanggungjawab Pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat.
Di sekolah peran dan tanggungjawab Pemerintah itu diwakili oleh Kepala Sekolah dan guru serta pegawai dan masyarakat diwakili oleh para orangtua/wali murid dan masyarakat lingkungan sekitar sekolah.Keberhasilan sekolah dalam mencapai misi dan visinya sangat dipengaruhi oleh synergi diantara komponen Pemerintah dan Masyarakat itu. Synergi artinya adalah masing-masing komponen yang bertanggungjawab atas program pendidikan tersebut dapat melaksanakan fungsi/tugasnya/kewajibannya masing-masing dengan baik saling mendukung dan melengkapi dan tertuju pada pencapaian misi dan visi sekolah.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan di atas, maka rumusan masalah pada makalah ini adalah :
1.      Mengetahui pengertian Manajemen
2.      Mengetahui pengertian Manajemen Pendidikan
3.      Mengetahui Pengertian dan fungsi-fungsi Manajemen di Sekolah
BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Manajemen
Kata Manajemen berasal dari bahasa Prancis kuno ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur. Manajemen belum memiliki definisi yang mapan dan diterima secara universal. Mary Parker Follet, misalnya, mendefinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi. Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.
Kata manajemen mungkin berasal dari bahasa Italia (1561) maneggiare yang berarti “mengendalikan,” terutamanya “mengendalikan kuda” yang berasal dari bahasa latin manus yang berarti “tangan”. Kata ini mendapat pengaruh dari bahasa Perancis manège yang berarti “kepemilikan kuda” (yang berasal dari Bahasa Inggris yang berarti seni mengendalikan kuda), dimana istilah Inggris ini juga berasal dari bahasa Italia. Bahasa Prancis lalu mengadopsi kata ini dari bahasa Inggris menjadi ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur.
Ø  Sedangkan secara terminologis, manajemen berarti kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka mencapai tujuan (Siagian, sebagaimana dikutip Imron, 1985). Manajemen juga berarti segenap perbuatan menggerakkan sekelompok orang atau mengerahkan segala fasilitas dalam suatu usaha kerja sama untuk mencapai tujuan (The Liang Gie, sebagaimana dikutip Imron, 1985).
Ø  Manajemen dapat juga didefinisikan sebagai suatu proses sosial, yang direncanakan untuk menjamin kerjasama, partisipasi, intervensi dan keterlibatan orang lain dalam mencapai sasaran tertentu atau yang telah ditetapkan dengan efektif (Sukiswa, 1986:13). Manajemen sebagai proses sosial, meletakkan bobotnya pada interaksi orang-orang baik orang-orang yang berada di atas maupun di luar lembaga-lembaga formal, atau yang berada di atas maupun di bawah posisi operasional seseorang. Menurut Asmani (2009:70), manajemen diartikan sebagai proses merencanakan, mengorganisasi, memimpin, dan mengendalikan upaya organisasi dengan segala aspeknya agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efisien.
Ø  Ada yang mendefinisikan manajemen adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama oleh dua orang atau lebih yang didasarkan atas aturan tertentu dalam rangka mencapai suatu tujuan (Imron, 1995:6).
Setelah menelaah berbagai jenis pengertian manajemen, maka dapat di simpulkan bahwa yang dimaksud dengan manajemen adalah suatu proses penataan dengan melibatkan sumber-sumber potensial baik yang bersifat manusia maupun non manusia dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Beberapa unsur yang terdapat dalam pengertian ini adalah:
1. Adanya suatu proses, yang menunjukkan bahwa ada tahapan-tahapan tertentu            yang harus dilakukan jika seseorang melakukan kegiatan manajemen.
   2. Adanya penataan, yang berarti bahwa makna dari manajemen sesungguhnya adalah penataan, pengaturan atau pengelolaan.
   3. Terdapatnya sumber-sumber potensial yang harus dilibatkan, baik sumber potensial yang bersifat manusiawi maupun yang bersifat non manusiawi. Tetapi, titik tekan pelibatan tersebut lebih banyak ke sumber potensial yang bersifat manusiawinya. Sebab, terlibat dan tertatanya sumber-sumber potensial yang bersifat manusiawi, akan dengan sendirinya menjadikan tertatanya sumber potensial yang bersifat non manusiawi.
Di dalam manajemen terdapat suatu proses yaitu tahapan-tahapan tertentu. Proses tersebut telah banyak dikedepankan oleh para ahli, meskipun dengan menggunakan berbagai macam label, misalnya fungsi-fungsi manajemen dan abstraksi-abstraksi manajemen. Para pakar manajemen di era sekarang, banyak mengabstraksikan menjadi 4 proses, yaitu planning, organizing, actuanting, dan controlling. Empat proses ini lazim digambarkan dalam bentuk siklus, karena setelah langkah controlling, lazimnya dilanjutkan dengan membuat planning baru.
B.   Pengertian Manajemen Pendidikan
Dalam pendidikan, manajemen itu dapat diartikan sebagai aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam suatu usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya (Pidarta, 1988:4).
Sedangkan menurut Mulyasa (2007), manajemen pendidikan merupakan proses pengembangan kegiatan kerja sama sekelompok orang untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
Engkoswara dalam Asmani (2009:76) mengemukaan bahwa manajemen pendidikan dalam arti seluas-luasnya adalah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana menata sumber daya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara produktif dan bagaimana menciptakan suasana yang baik bagi manusia yang turut serta di dalam mencapai tujuan yang telah disepakati bersama. Lebih lanjut dikemukakan bahwa penataan mengandung makna mengatur, memimpin, mengelola atau mengadministrasikan sumber daya yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pembinaan. Sumber daya terdiri dari sumber daya manusia (peserta didik, pendidik, dan pemakai jasa pendidikan), sumber belajar, dan kurikulum (segala sesuatu yang disediakan lembaga pendidikan).
Dengan kata lain manajemen pendidikan merupakan suatu sistem pengelolaan dan penataan sumber daya pendidikan, seperti tenaga kependidikan, peserta didik, masyarakat, kurikulum, dana (keuangan), sarana dan prasarana pendidikan, tata laksana dan lingkungan pendidikan. Sehingga dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa manajemen pendidikan adalah suatu proses penataan kelembagaan pendidikan dengan melibatkan sumber-sumber potensial, baik yang bersifat manusia maupun yang bersifat non manusia dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang efektif dan efisien
Dari segi proses, manajemen di bidang apapun, hampir tidak berbeda, karena senantiasa dimulai dengan perencanaan dan diakhiri dengan pengawasan. Yang senantiasa membedakan antara manajemen bidang satu dengan bidang yang lain adalah aspek subtansinya, atau bidang garapannya. Berarti, yang membedakan antara manajemen pendidikan dengan manajemen ekonomi atau layanan publik yang lain, bukan pada aspek prosesnya melainkan pada aspek subtansinya. Menurut Tim Pakar Manajemen Pendidikan (2003) yang menjadi subtansi manajemen pendidikan adalah,
   1. Kurikulum dan pembelajaran
   2. Peserta didik
   3. Tenaga kependidikan
   4. Sarana dan prasarana
   5. Partisipasi Masyarakat
C. Manajemen Sekolah.
Sekolah adalah sebuah lembaga, didalamnya terdapat sejumlah orang-orang yang berfungsi sebagai pelaksana berbagai kegiatan pendidikan. Sejumlah orang yang bekerja dan adanya tujuan yang hendak dicapai dan telah menjadi suatu ketetapan, memerlukan seorang Pemimpin agar semua kegiatan dapat terlaksana dengan baik dan mencapai tujuan sebagaimana diharapkan.


Hadari Nawawi mengemukakan :
“Dilingkungan dunia pendidikan banyak ditemui usaha kerjasama sejumlah orang untuk mencapai tujuan tertentu yang disepakati bersama. Salah satu bentuk kerjasama itu diselenggarakan berupa lembaga pendidikan formal yang bersifat sengaja, berencana dan sistematis. Untuk keperluan itu pada setiap lembaga pendidikan formal terdapat seorang pimpinan dengan atau tanpa pembantu. Pimpinan itu biasanya diangkat oleh badan yang lebih tinggi dengan kedudukan sebagai Kepala”.
Pemimpin di sekolah adalah Kepala sekolah, tugas pokoknya adalah menggerakkan seluruh sumber daya manusia yang ada di sekolah, memaksimalkan penggunaan semua fasilitas yang dimiliki dalam rangka menjamin tercapainya tujuan pendidikan di sekolah yang ia pimpin.
Sebagai pemimpin sebuah lembaga maka ia harus memiliki kelengkapan kemampuan dalam melaksanakan fungsi-fungsi manajemen sebab pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen itu merupakan salah satu tanggungjawabnya. Dalam hal ini Sondang P.
Siagaian menyatakan sebagai berikut :
“Para eksekutif itulah yang bertanggungjawab atas terselenggaranya samua fungsi-fungsi organik manajemen mulai dari perencanaan, penyusunan program kerja, pengorganisasian, penggerakan tenaga manusia, memimpin kegiatan pelaksanaan, melakukan pengendalian dan pengawasan dan demikian pula dengan penilaian dan pemanfaatan sistem umpan balik yang berlaku dalam organisasi”. …Siagian, Sondang P.
Selanjutnya oleh Soewadji Lazaruth dikatakan :
“Kepala sekolah adalah pemimpin pendidikan yang mempunyai peranan
sangat besar dalam mengembangkan mutu pendidikan di sekolah. Berkembangnya semangat kerja, kerjasama yang harmonis, minat terhadap perkembangan pendidikan, suasana kerja yang menyenangkan dan mutu profesional diantara para guru banyak ditentukan Kepala sekolah dengan kualitas kepemimpinannya. Kepala sekolah harus mampu membangkitkan semangat kerja yang tinggi. Ia harus mampu mengembangkan staf untuk bertumbuh dalam kepemimpinannya. Ini berarti ia harus mampu membagi wewenang dalam pengambilan keputusan, sebab banyaklah tanggungjawab yang harus dilaksanakannya. Agar tugas-tugas ini berhasil baik ia perlu memperlengkapi diri baik perlengkapan pribadi maupun perlengkapan profesi”.
D. Fungsi Manajemen di Sekolah
Melaksanakan fungsi-fungsi manajemen pada prinsipnya sama dilembaga manapun hal itu dilakukan, perbedaannya hanyalah terletak pada penerapannya, menyangkut luas ruang lingkup dan kebutuhan masing-masing. Berkaitan dengan ini kita perlu menyimak apa yang dikemukakan oleh T.Hani Handoko sebagai berikut :
“Fungsi-fungsi manajemen tersebut adalah universal. Sifat ini merupakan hasil kenyataan bahwa fungsi-fungsi manajemen adalah sama dimana saja, dalam seluruh organisasi dan pada waktu kapan saja. Fungsi-fungsi manajemen ini sama untuk perusahaan-perusahaan besar,kecil ataupun multi nasional, organisasi-organisasi kemasyarakatan, kelompok-kelompok hobi dan sebagainya. Walaupun mungkin diterapkan secara berbeda oleh manajer-manajer yang berbeda pula”.
Berbagai ahli mengemukakan pendapatnya yang berbeda tentang fungsi manajemen itu. Hal ini wajar dan dapat diterima mengingat latar belakang pengalaman dan situasi yang mereka alami juga berbeda. Namun tetap saja secara prinsip seluruh pendapat itu tertuju pada satu titik yang sama. Tujuan dari pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen itu tidak lain adalah untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari suatu pekerjaan melalui orang lain yang bekerja secara rela dan prnuh tanggungjawab.
Dalam ha ini Hadari Nawawi menyatakan :
“Kegiatan manajemen administratif yang meliputi perencanaan pengorganisasian, pengarahan, koordinasi, kontrol dan komunikasi harus diwujudkan secara terpadu, sehingga sebagai sub sistem yang merupakan fungsi primer akan berdaya guna secara optimal bagi keseluruhan proses administrasi sebagai total sistem. Keterpaduan ini akan terwujud bilamana seorang administrator berusaha mendayagunakan dan memberikan peran serta pada setiap personal di lingkungan organisasi kerjanya sesuai dengan posisi dan kedudukannya masing-masing ”.
Berdasarkan pernyataan tersebut di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan pendayagunaan fungsi-fungsi manajemen itu maka akan semakin nyatalah keterlibatan seluruh anggota organisasi / lembaga dalam memainkan peranannya masing-masing secara tepat dan berhasil guna. Ketepatan peranan yang dimainkan oleh masing-masing personal tersebut akan menimbulkan rasa tanggungjawab yang dicerminkan oleh rasa memiliki (sense of belonging) terhadap organisasi/lembaga kerja (sekolah). Dan perasaan ikut memiliki itu akan menumbuhkan pula sikap bertanggngjawab secara nyata (sense of responsibility). Kedua pencerminan sikap itu memungkinan terlaksananya seluruh beban kerja sehingga mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran sebagaimana mestinya.
Dari uraian yang telah dikemukakan di atas maka dapatlah disimpulkan bahwa dalam melaksanakan fungsi-fungsi manajemen itu ada beberapa tekanan yang menjadi perhatian paling utama yakni :
1).  Manajemen selalu diterapkan dalam hubungannya dengan suatu kelompok        orang yang bekerjasama.
2).  Ada tujuan tertentu yang hendak dicapai. Dan didalam manajemen tersebut terjadi serangkaian kegiatan utama yang memerlukan keterampilan-keterampilan berdasarkan pengetahuan tertentu dan mengandung seni mengelola dari setiap orang yang melakukannya.
Fungsi-fungsi manajemen haruslah dilaksanakan secara serempak, terpadu pada keadaan yang sama artinya tidak dipisahkan antara satu fungsi dengan fungsi lainnya. Fungsi-fungsi manajemen yang dimaksudkan disini adalah fungsi Pengorganisasian yang meliputi ;
- Pembagian Kerja
- Analisa Jabatan
- Spesialisasi Pekerjaan
- Pemberian/pendelegasian wewenang
Ø Fungsi Pengorganisasian.
Sama halnya seperti manajemen maka pengorganisasian pun diartikan oleh para ahli secara berbeda-beda. H.Koontz dan O’Donnell mengemukakan :
“Pengorganisasian berhubungan dengan pengaturan struktur melalui penentuan kegiatan untuk mencapai tujuan dari pada suatu badan usaha/organisasi secara keseluruhan atau setiap bagiannya. Pengelompokan kegiatan-kegiatannya, penugasan, pelimpahan wewenang untuk melaksanakan pekerjaan, menentukan koordinasi kewenangan dan hubungan informasi baik horizontal maupun vertikal dalam struktur organisasi itu. Struktur organisasi bukan tujuan tetapi suatu alat dalam menyelesaikan tujuan badan usaha/organisasi. Struktur ini harus sesuai dengan tugas, yang menggambarkan pembatasan-pembatasan atau persetujuan-persetujuan yang telah diletakkan oleh pimpinan terhadap seseorang yang bekerja dalam organisasi atau badan usaha itu”.
Geoge R.Terry berpendapat :
“Pengorganisasian adalah menentukan, mengelompokkan dan pengaturan berbagai kegiatan yang dianggap perlu untuk pencapaian tujuan penugasan
orang-orang dalam kegiatan-kegiatan ini,
dengan menetapkan faktor-faktor
lingkungan fisik yang sesuai,
dan menunjukkan hubungan kewenangan
yang dilimpahkan terhadap setiap individu yang ditugaskan untuk
melaksanakan kegiatan tersebut”.
Apa yang dikemukakan oleh Ernest Dale berikut ini mungkin dapat mempermudah kita dalam memahami pengertian pengorganisasian secara substansial :
“Pengorganisasian merupakan suatu proses untuk merancang struktur formal, mengelompokkan dan mengatur serta membagi tugas-tugas atau pekerjaan di antara para anggota organisasi, agar tujuan organisasi dapat dicapai dengan efsien. Proses pengorganisasian dapat ditunjukkan dengan tiga langkah prosedur berikutini:
 1. Pemerincian seluruh pekerjaan yang harus dilaksanakan untuk mencapai
       tujuanorganisasi
 2. Pembagian beban kerja total menjadi kegiatan-kegiatan yang secara
   logik dapat dilaksanakan oleh satu orang. Pembagian kerja sebaiknya
   tidak terlalu berat sehingga tidak dapat diselesaikan, atau terlalu ringan
   sehingga ada waktu menganggur, tidak efisien dan terjadi biaya yang
   tidakperlu.
 3.Pengadaan dan pengembangan suatu mekanisme untuk
   mengkordinasikan pekerjaan para anggota organisasi menjadi kesatuan
   yang terpadu dan harmonis. Mekanisme pengkoordinasian ini akan
   membuat para anggota organisasi menjaga perhatiannya pada tujuan
   organisasi dan mengurangi ketidak efisienan dan konflik-konflik yang
   merusak”.
Ø Pembagian Kerja.
Pembagian kerja merupakan komponen pokok di dalam fungsi pengorganisasian. Pembagian kerja adalah tindakan manajemen setelah dilakukan kajian menyeluruh tentang tujuan yang hendak dicapai satu organisasi/lembaga/sekolah, besarnya beban kerja yang akan dilaksanakan, kondisi sarana dan prasarana yang dimiliki, personal yang tersedia dan hal-hal lain yang berkaitan. Pembagian kerja harus mempertimbangkan jenis pekerjaan, volume pekerjaan, sifat pekerjaan. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah penyelesaian pekerjaan dan pencapaian tujuan dari masing-masing pekerjaan. Menurut U. Husna Asmara pembagian kerja ini adalah :
“Agar tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai dengan efisien maka pimpinan harus mengadakan pembagian kerja.Dalam mengadakan pembagian kerja pimpinan hendaknya memperhatikan waktu yang membatasi,beban tugas yang diberikan untuk tiap-tiap kelompok kerja serta kesesuaian jenis, sifat dari pekerjaan yang mesti diselesaikan”.
Pembagian kerja akan menghasilkan struktur organisasi sekolah dn bagan organisasi sekolah. Didalamnya akan tergambar mekanisme kerja, fungsi-fungsi kelompok kerja, alur wewenang dan tanggungjawab serta tingkatan hirarki manajemen atau penanggungjawab bidang dan pelaksana kegiatan tertentu. Struktur organisasi sifatnya fleksibel dapat bertumbuh dan berkembang sesuai dengan kebutuhan pada situasi dan kondisi tertentu. Pengembangan struktur organisasi yang dilakukan hendaknya paling tidak bisa memenuhi 5 persyaratan sebagaimana yang dikemukakan oleh T.Hani Handoko :
1. Pembagian kerja. Setiap kotak menunjukkan individu atau satuan organisasi                 mana yang bertanggungjawab untuk kegiatan organisasi tertentu, dan tingkat spesialisasi yang digunakan.
2.
Manajer dan bawahan atau rantai perintah. Rantai perintah menunjukkan
hubungan atasan dan bawahan dalam keseluruhan organisasi.
Aliran ini dimulai dari jenjang organisasi yang tertinggi sampai bawahan terendah dalam organisasi. Oleh karena itu setiap anggota organisasi mempunyai suatu kaitan dengan manajer puncak organisasi. Dalam hal ini prinsip kesatuan perintah harus jelas, dimana setiap anggota menerima tugas dan pemindahan/pelimpahan wewenang hanya dari seorang manajer dan melaporkan pertanggungjawaban juga hanya kepada seorang manajer.
3.
Tipe pekerjaan yang dilaksanakan, label dan skripsi pada tiap kotak menunjukkan pekerjaan organisasional atau bidang tanggungjawab berbeda.
4.
Pengelompokan segmen-segmen pekerjaan. Keseluruhan bagan menunjukkan atas dasar apa kegiatan-kegiatan organisasi dibagi atas dasar fungsional atau divisional, atau lainnya (departementalisasi)
Ø Analisa Jabatan.
Setelah pembagian kerja diselesaikan oleh Kepala sekolah maka tahapan berikutnya yang harus dilakukan adalah menganalisis jabatan. Yaitu persyaratan minimal yang harus dimiiki personal yang dipilih sebagai penanggungjawab pelaksanaan bidang-bidang pekerjaan tersebut dan siapa yang memenuhi kriteria tersebut. Komponen-komponen suatu pekerjaan harus dipelajari secara kritis baik secara terpisah atau terintegrasi agar mempermudah dalam penetapan kriteria orang yang akan dipilih untuk menanganinya. U Husna Asmara berpendapat tentang hal ini sebagai berikut :
“Analisa jabatan itu proses dengan meneliti dan mempelajari secara kritis komponen-komponen pekerjaan, baik secara terpisah maupun secara berhubungan dalam keseluruhan pekerjaan guna menentukan segala jenis
tugas
- tugas dalam jabatan itu”.
Selanjutnya beliau menyebutkan hasil analisa jabatan itu hendaknya :
a. Analisa jabatan hendaknya dapat memberikan informasi berupa fakta dan
kegiatan yang berhubungan dengan jabatan.
b.
Hasil analisa jabatan berupa fakta dapat diperlukan untuk bermacam-macam
tujuan yang ada di organisasi.
Dengan demikian fakta yang satu akan
menunjang kegiatan yang lain dalam usaha mencapai tujuan.
c.
Untuk penyempurnaan maka analisa jabatan yang sudah dilakukan perlu
ditinjau kembali untuk perbaikan-perbaikan.
d.
Analisa jabatan hendaknya dapat membedakan bobot tugas masing
masing dalam organisasi.
Dengan demikian tugas yang lebih penting dan
tugas yang biasa dapat segera diketahui.
e.
Analisa jabatan hendaknya dapat memberikan informasi yang tepat
berupa data yang lengkap dan dipercaya.
Dari analisa jabatan yang dilakukan itu akan dihasilkan gambaran jabatan yang menyangkut :
a.
Apa yang akan dilakukan
b.
Tanggungjawab-tanggungjawab yang diminta
c.
Kecakapan atau latihan/pendidikan yang diperlukan
d.
Kondisi-kondisi, dibawah mana jabatan itu dilakukan
e.
Macam atau kualitas orang yang diperlukan untuk jabatan tertentu.
Ø Spesialisasi Pekerjaan.
Pekerjaan yang terlalu banyak dan menumpuk pada satu jabatan besar kemungkinan mengandung resiko tidak terselesaikannya pekerjaan tersebut. Pelaksanannya menjadi tidak fokus, bingung dan cepat lelah dan bosan. Demikian juga jenis pekerjaan yang harus ditangani oleh satu bidang akan mendorong pelaksanaan pekerjaan apa adanya, tidak mementingkan kualitas pekerjaannya. Spesialisasi pekerjaan dimaksudkan untuk memfokuskan satu bidang pada beberapa jenis pekerjaan saja yang secara khas merupakan bagian penting dari tugas pokok yang harus dilaksanakan bidang tersebut. U.Husna Asmara menyebut spesialisasi pekerjaan sebagai berikut :
“Dalam teori kerja spesialisasi dihubungkan dengan gejala psikologis yang disebut motivasi. Spesialisasi atau perbandingan kerja dan orang yang melaksanakannya, dapat mendorong personal lebih giat mengerjakan tugas-tugas sesuai dengan minatnya. Para personal dapat mengetahui dan memahaminya dengan jelas tugas yang dibebankan kepadanya sehingga keraguan untuk menjalankan tugasnya dapat dihindari”.
Kita juga harus memahami untuk urusan spesialisasi pekerjaan ini seorang Kepala sekolah juga menemui kesulitan, tetapi bukan berarti spesialisasi pekerjaan ini tidak dapat dilaksanakan apalagi mengingat sekarang ini berbagai kemajuan teknolgi memberi peluang sangat besar bagi siapa saja yang ingin memperoleh berbagai informasi yang berguna untuk membantu pelaksanaan tugas-tugas yang sedang mereka emban.
Jika spesialisasi tidak dapat dilakukan secara ideal maka paling tidak kukhususan konsentrasi bidang pekerjaan itu dengan menampatkan orang-orang yang berdedikasi tinggi akan membantu kelemahan-kelemahan tertentu sebagaimana tuntutan idealnya.
Ada prinsip yang mesti ditaati kepala sekolah dalam melaksanakan spesialisasi pekerjaan ini ialah tidak ada alasan spesialisasi pekerjaan dilakukan atas dasar pemerataan jabatan atau pekerjaan saja atau bagi-bagi jabatan. Spesialisasi pekerjaan itu ditujukan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pencapaian tujuan pekerjaan sebagaimana dikemukakan oleh Sondang P Siagian sebagai berikut :
“Kenyataan yang terdapat dalam kehidupan organisasi formal menunjukkan semakin meningkatnya spesialisasi pengetahuan yang diperlukan dalam menjalankan roda organisasi dengan tingkat efisiensi, efektivitas yang semakin tinggi”.
Ø Pemberian/Delegasi Wewenang.
Penempatan seseorang dalam satu bidang pekerjaan harus diserta dengan penyerahan sebagian wewenang Kepala sekolah kepada masing-masing pelaksana bidang yang telah dilakukan sebelumnya. Kepada mereka harus diberikan informasi mengenai batas-batas wewenang dan tanggungjawab masing-masing personal sesuai dengan beban kerja, jenis pekerjaan, luas atau sempitnya ruang lingkup pekerjaan yang dipegang itu. Dengan pendelegasian wewenang itu, para pelaksana operasional itu akan memiliki pijakan yang kuat dan pasti dalam melaksanakan tugasnya tidak lebih banyak dihantui sikap ragu-ragu dalam pengambilan keputusan tertentu sesuai yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas mereka itu.James Menzies Black mengatakan pendelegasian wewenang itu seperti berikut :
“Pendelegasian wewenang adalah satu tindakan yang memisahkan manajer dari pelaku. Inilah satu-satunya metode bagi seseorang untuk dapat mengarahkan / mengkoordinasikan pekerjaan dari banyak orang. Pendelegasian juga merupakan satu-satunya alat bagi seorang manajer untuk dapat memperluas wilayah tindakannya dan memperbaiki kemampuan pemberian layanan supervisi”.
Kasus yang selama ini terjadi di banyak sekolah adalah pembagian kerja itu tidak dibarengi penyerahan wewenang sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya sehingga bidang pekerjaan yang telah ditetapkan itu manjadi tidak berkembang dan kurang mendukung kemajuan sekolah.
Beberapa point yang dapat diperoleh oleh Kepala sekolah bila ia melakukan pendelegasian wewenang itu diantaranya adalah;

1. Pendelegasian wewenang memungkinkan manajer (Kepala sekolah) dapat                    mencapai lebih dari bila ia mengerjakan semuanya dengan sendiri. Delegasi wewenang dari atasan kepada bawahan merupakan proses yang diperlukan dalam meningkatkan efisiensi penyelesaian seluruh tugas-tugas.
2.
Delegasi wewenang memungkinkan manajer (Kepala sekolah) memusatkan tenaganya pada tugas-tugas prioritas yang lebih penting.
3.
Delegasi wewenang memungkinkan bawahan (guru,pegawai) untuk tumbuh dan berkembang bahkan dapat digunakan sebagai alat untuk belajar dari kesalahan.
4.
Delegasi wewenang dibuthkan karena manajer tidak selalu mempunyai pengetahuan yang dibutuhkan untuk membuat keputusan. Mereka mungkin menguasai “the big picture” tetapi tidak cukup terperinci.
 Oteng Sutisna mengemukakan :
“Kewenangan adalah faktor yang menentukan perbuatan anggota organisasi, jelas semua anggota organisasi harus memiliki sebagian dari kewenangan itu dan harus mengetahui dimana kewenangan itu ditempatkan didalam organisasi. Jika kewenangan itu tidak ditempatkan dan diserahkan dengan tegas, maka hampir setiap orang bisa menuntutnya dan memakainya. Atau ia bisa menjadi potensi yang tak berguna karena tidak dimanfaatkan”.
Bagaimanakah mendelegasikan wewenang itu secara efektif ? Louis Allen menyebutkan teknik-tekniknya sebagai berikut :
1. Tetapkan tujuan. Bawahan harus diberitahu maksud dan pentingnya
    tugas-tugas yang didelegasikan kepadanya.
2.
Tegaskan tanggungjawab dan wewenang.Bawahan harus diberi
    informasi dengan jelas tentang apa yang mereka harus pertanggungjawabkan              dan bagian dari sumber daya-sumber daya organisasi maka yang ditempatkan di bawah wewenangnya.
3.
Berikan motivasi kepada bawahan. Manajer dapat mendorong bawahan
    melalui perhatian pada kebutuhan dan tujuan mereka yang sensitif.
4.
Meminta penyelesaian kerja. Manajer memberikan pedoman, bantuan
    dan informasi kepada bawahan, sedangkan para bawahan harus melaksanakan pekerjaan sesungguhnya yang telah didelegasikan.
5.
Berikan latihan. Manajer perlu mengarahkan bawahan untuk mengembangkan      pelaksanaan kerjanya.
6.
Adakan pengawasan yang memadai. Sistem pengawasan yang terpercaya (seperti laporan mingguan) dibuat agar manajer tidak perlu menghabiskan waktunya dengan memeriksa pekerjaan bawahan terus menerus”.
Mengapa beberapa manajer (Kepala sekolah) tidak tegas dalam mendelegasikan wewenang tersebut ? T.Hani Handoko menyebutkan sebagai berikut :
1. Manajer merasa lebih bila mereka tetap mempertahankan hak pembuatan keputusan.
2.
Manajer tidak bersedia menghadapi resiko bahwa bawahan akan melaksanakan wewenangnya dengan salah atau gagal.
3.
Manajer tidak atau kurang mempunyai kepercayaan akan kemampuan
bawahannya.
4.
Manajer merasa bahwa bawahan lebih senang tidak mempunyai hak pembuatan keputusan yang lebih luas.
5.
Manajer takut bahwa bawahan akan melaksanakan tugasnya dengan efektif sehingga posisinya terancam.
6.Atau manajer tidak mempunyai kemampuan manajerial untuk
mendelegasikan tugasnya”.
Jadi intinya adalah sebagai manajer seorang Kepala Sekolah mestinya melengkapi kepemimpinannya dengan berbagai kemampuan manejerial lainnya sebagai antisipasi terhadap kemungkinan buruk jika wewenang yang didelegasikannya gagal. Kekhawatiran seorang kepala sekolah terhadap kemungkinan kegagalan bawahannya yang diberi wewenang sehingga mengambil jalan pintas dengan mengerjakan sendiri semua pekerjaan adalah langkah ceroboh dan bisa berakibat lebih fatal dari kemungkinan gagal yang dilakukan bawahannya. Menjadi kewajiban seorang manajer untuk bisa mengarahkan, menumbuhkan keyakinan diri bawahannya untuk mampu melaksanakan tugas-tugas yang sudah didelegasikan.
Sikap profesional seorang kepala sekolah adalah keberaniannya dalam menyerahkan sebagian wewenangnya dan sudah mempersiapkan segala sesuatu sebelum bawahannya tersebut gagal. Disitu aspek kepemimpinan seorang Kepala sekolah ditantang, berhasil atau tidakkah ia membangun kualitas para bawahannya. Tidak sedikit contoh para manajer yang tidak berlatar belakang pendidikan khusus manajemen berhasil dengan dukungan bawahan yang sangat profesional dalam bidangnya, semua itu karena kelihaian sang manajer dalam memainkan seni-seni manajemen itu.


BAB III
PENUTUP.

               Jabatan Kepala sekolah adalah jabatan profesional. Jabatan itu menjadi semakin penting dan strategis jika kita hubungkan dengan arah perbaikan dunia pendidikan kita sekarang ini. Adanya niat untuk memperluas otoritas sekolah dalam menata dirinya secara otomatis menuntut profesionalitas jabatan Kepala sekolah. Persoalannya sekarang adalah bagaimana Kepala sekolah maupun calon Kepala sekolah bisa mengerti tentang tuntutan profesionalitasnya sebagai manajer di sekolah yang juga harus mapan dalam memainkan fungsi-fungsi manajemen dalam mengelola sekolah yang ia pimpin.
               Kita melihat demikian banyaknya Kepala sekolah yang melaksanakan tugasnya sama sekali tidak menyentuh persoalan manajemen. Mereka masih saja menjadikan perintah atasan sebagai alasan tidak memainkan perannya sebagai manajer yang semestinya ialah yang apling tahu tentang sekolah yang dipimpinnya. Perkembangan dan perubahan perilaku Kepala sekolah sebagai Manajer pendidikan/Administrator mesti terus didorong untuk memajukan pendidikan kita ditingkat sekolah-sekolah.
               Kepada Pemerintahpun kita harus terus mendorong agar lebih banyak melepaskan wewenangnya yang didelegasikan kepada sekolah agar lebih apresiatif. Kepala sekolah tidak boleh terganggu menjalankan tugasnya dengan banyaknya larangan-larangan yang tidak bersifat substansial sehingga peran dan fungsinya sebagai manajer bisa lebih menonjol dari pada sekedar pengawas.



DAFTAR PUSTAKA
Sugiyo M.Si.,Prof.,DR. 2011. Manajemen BK Di Sekolah. Semarang. Widya Karya.
http://edukasi.kompasiana.com/2011/09/19/pelaksanaan-fungsi-fungsi-manajemen-di-sekolah/

PERSONAL EXPERIENCE

PERSONAL EXPERIENCE
Seven Day Working At The Stall Refill Gallon Water

            One day, when I’m off college I tried to work in the stall refill water for seven days. First day of many people who buy water until the seventh day was a lot of people who came tobuy water.
            By the day, I stayed briefly stall for lunch and prayer. Then after a break is finished I went back to work keeping the stall while waiting for someone who will buy the water, with the price of three thousand rupiah a gallon, every day I could sell more than fifty gallon a day with the results of one hundred fifty thousand rupiah a day. So is the next day until the seventh day came when My last day of work.
            For seven days work I could sell water three hundred fifty gallon with the results of one million five hundred thousand rupiah. And during the seven day work I only received a reward of five hundred thousand rupiah, wages are not really worth the effort I’ve picked out of three hundred and fifty gallon for seven days.
            But with wages of fifty thousand rupiah for seven days, I just found out how hard work to earn money and I will no longer be wasteful snack because I’ve experienced the hard to find money for daily living needs.
            It is a personal experience in My life the most memorable.   

Asal usul Bahasa Indonesia

Asal-usul Bahasa Indonesia



            Tanggal 28 Oktober 1928 merupakan tanggal bersejarah bagi bahasa
Indonesia yang saat itu diresmikan menjadi bahasa negara dan menjadi bahasa persatuan dari sekian ratus bahasa daerah.

            Namun seperti apakah yang dinamakan bahasa Indonesia itu? Orang mengenalnya sebagai bahasa Melayu yang dimodifikasi, lalu dicampur dengan bahasa-bahasa serapan dari berbagai daerah dan dari bahasa asing, kemudian dibakukan.

            Dari manakah asal-usul bahasa Melayu itu? Apakah bahasa itu hanya dituturkan oleh etnis Melayu sejak
Berabad-abad lalu? Padahal etnis Melayu sendiri hanya sebagian kecil saja dari ratusan etnis di nusantara?

            Arkeolog Harry Truman Simanjuntak mengatakan, bahasa Melayu dan ratusan bahasa daerah lainnya di nusantara sebenarnya
Berakar dari bahasa Austronesia yang mulai muncul sekitar 6.000-10.000 tahun lalu.

            Penyebaran penutur bahasa Austronesia, ujar Ketua Ikatan Ahli
Arkeologi Indonesia (IAAI) itu, merupakan fenomena besar dalam sejarah umat manusia karena sebagai suatu rumpun bahasa, Austronesia merupakan yang terbesar di dunia, meliputi 1.200 bahasa dan dituturkan oleh hampir 300 juta populasi.


            Masyarakat penuturnya tersebar luas di wilayah sepanjang 15 ribu km meliputi lebih dari separuh bola bumi, yaitu dari
Madagaskar di Barat hingga Pulau Paskah di ujung timur, dari Taiwan-Mikronesia di utara hingga Selandia Baru di selatan.


"Out of Taiwan"

            Mengenai asal-usul penutur Austronesia, Harry mengatakan, ada beberapa hipotesa. Yang paling umum adalah
Hipotesa bahwa asal leluhur penutur Austronesia adalah Formosa (Taiwan) atau model "Out of Taiwan".

            Arkeolog lainnya Daud A Tanudirjo menyebutkan, Robert Blust adalah pakar linguistik yang paling lantang menyuarakan pendapat bahwa asal-ususl penutur Austronesia adalah Taiwan.

            Sejak 1970-an Blust telah mencoba merekonstruksi silsilah dan pengelompokan bahasa-bahasa dari rumpun Austronesia misalnya kosakata protobahasa Austronesia
yang berkaitan dengan
Flora dan fauna serta gejala alam lain, kata Daud.


            "Ia juga menawarkan rekonstruksi pohon kekerabatan rumpun bahasa Austronesia dan perkiraan waktu pencabangannya mulai dari Proto-Austronesia hingga Proto-Oseania," katanya.

            Para leluhur ini, diungkapkan Daud, awalnya berasal dari Cina Selatan yang bermigrasi ke Taiwan pada 5.000-4.000 SM, namun akar bahasa Austronesia baru muncul beberapa abad kemudian di Taiwan.

            Kosakata yang dapat direkonstruksi dari bahasa awal Austronesia yang dapat dilacak antara lain : rumah tinggal, busur, memanah, tali, jarum, tenun, mabuk, berburu, kano, babi, anjing, beras, batu giling, kebun, tebu, gabah, nasi, menampi, jerami,
hingga mengasap.

            Para petani purba di Taiwan ini berkembang cepat dan lalu terpecah-pecah menjadi kelompok-kelompok yang hidup terpisah dan bahasanya menjadi berbeda-beda dengan setidaknya kini ada sembilan bahasa yang teridentifikasi sebagai bahasa formosa.


Bermigrasi

            Migrasi leluhur dari Taiwan ke
Filipina mulai terjadi pada 4.500-3.000 SM. Leluhur ini adalah salah satu dari kelompok yang memisahkan diri. Mereka bermigrasi ke selatan menuju Kepulauan Filipina bagian utara yang kemudian memunculkan cabang bahasa baru yakni Proto-Malayo-Polinesia (PMP).

            Tahap berikutnya, ujar Daud, terjadi pada 3.500-2.000 SM di mana masyarakat penutur bahasa PMP yang awalnya tinggal di Filipina Utara mulai bermigrasi ke selatan melalui Filipina Selatan menuju Kalimantan dan Sulawesi serta ke arah tenggara menuju Maluku Utara.

            Proses migrasi ini membuat bahasa PMP bercabang menjadi bahasa Proto Malayo Polinesia Barat (PWMP) di kepulauan Indonesia bagian barat dan Proto Malayo Polinesia Tengah-Timur (PCEMP) yang berpusat di Maluku Utara.

            "Rupanya ketika bermigrasi ke arah tenggara penanaman padi mulai ditinggalkan karena tidak sesuai dengan lingkungannya. Mereka mulai memanfaatkan tanaman keladi dan umbi-umbian lain serta buah-buahan," katanya.

            Namun pada 3.000-2.000 SM leluhur yang ada di Maluku Utara bermigrasi ke selatan dan timur. Hanya dalam waktu singkat migrasi dari Maluku Utara mencapai Nusa Tenggara sekitar 2.000 SM yang kemudian memunculkan bahasa Proto Malayo Polinesia Tengah
(PCMP).

            Demikian pula migrasi ke timur yang mencapai pantai utara Papua Barat dan melahirkan bahasa-bahasa Proto Malayo-Polinesia Timur (PEMP).


            Migrasi dari Papua Utara ke barat terjadi pada 2.500 SM dan ke timur pada 2.000-1.500 SM, di mana penutur PEMP di wilayah pantai barat Papua Barat melakukan migrasi
Arus balik menuju Halmahera Selatan, Kepulauan Raja Ampat, dan pantai barat Papua Barat
yang kemudian muncul bahasa yang dikelompokkan sebagai Halmahera Selatan-Papua Nugini Barat (SHWNG).

            Setelah itu kelompok lain dari penutur PEMP bermigrasi ke Oseania dan mencapai kepulauan Bismarck di Melanesia sekitar 1.500 SM dan memunculkan bahasa Proto Oseania.

            "Sedangkan di Kepulauan Indonesia di bagian barat, setelah sempat menghuni Kalimantan dan Sulawesi, pada 3.000-2.000 SM, para penutur PWMP bergerak ke selatan, bermigrasi ke Jawa dan Sumatera," katanya.

            Penutur PWMP yang asalnya dari Kalimantan dan Sulawesi itu lalu bermigrasi lagi ke utara antara lain ke
Vietnam pada 500 SM dan Semenanjung Malaka, ujarnya.

            Menjelang awal tahun Masehi, penutur bahasa WMP juga menyebar lagi ke Kalimantan sampai ke Madagaskar, tambah Daud.

            Bentuk rumpun bahasa Austronesia ini lebih menyerupai garu daripada bentuk pohon. Karena semua proto-bahasa dalam kelompok ini, dari Proto Malayo Polynesia hingga Proto Oseania menunjukkan kesamaan kognat yang tinggi, yaitu lebih dari 84 persen dari 200 pasangan kata, katanya.

            Dengan demikian, kata Harry Truman, hampir seluruh kawasan nusantara bahkan sampai ke kawasan negeri-negeri tetangga dan masyarakat kepulauan Pasifik dan Madagaskar menuturkan bahasa yang asal-muasalnya merupakan bahasa Austronesia.

            "Kecuali masyarakat yang ada di pedalaman Papua dan pedalaman pulau Timor yang bahasanya lebih mirip dengan bahasa pedalaman Australia," katanya.

            Bahasa Indonesia sekarang ini, kata Harry lagi, sudah sangat kompleks karena penuturnya tidak hanya hidup dengan sukunya masing-masing dan
Beradaptasi dengan rumpun bahasa dunia lainnya seperti dari India, Arab, Portugis, Belanda dan Inggris.

Diagnosa

A. Diagnosis
Diagnosis merupakan tahapan untuk menetapkan hakikat masalah yang dihadapi klien beserta sebab-sebabnya dengan membuat perkiraan atau dugaan, kemungkinan yang akan dihadapi klien berkaitan dengan masalahnya.
Ada beberapa tahapan dalam diagnosis yaitu :
a. Identifikasi masalah
Identifikasi masalah merupakan upaya menentukan hakikat masalah yang dihadapi oleh klien. Penentuan ini dapat menggunakan klasifikasi masalah sebagai berikut :
Klasifikasi masalah menurut Bordin :
a. Ketergantungan pada orang lain (dependence)
b. Kurang menguasai keterampilan (lack of skill)
c. Konflik diri (self conflict)
d. Kecemasan menentukan pilihan (choice anxiety)
e. Masalah yang tidak dapat diklasifikasikan (no problem).
Klasifikasi masalah menurut Pepinsky :
a. Kurang percaya diri (lack of assurance)
b. Kurang informasi (lack of information)
c. Kurang menguasai keterampilan yang diperlukan(lack of skill)
d. Bergantungan pada orang lain (dependence)
e. Konflik diri (self conflict)

Dalam identifikasi masalah kita berusaha memahami apa yang dialami klien dan mencari kesulitan masalah yang dihadapi klien. Diagnosa mengambil kesimpulan untuk menentukan derita klien atau yang dirasakan klien.

Dengan klasifikasi masalah dalam disgnosis sebagai berikut :

- Faktor ketidakpercayaan diri
Ketergantungan pada oranglain, ketidaktahuan potensi yang ada, sulit mengambil keputusan, kurang informasi.
- Faktor depresi atau konflik diri
Kecemasan(anxiety), gangguan pikiran, gangguan perasaan,dan gangguan tingkah laku.
- Faktor miskomunikasi atau misunderstanding
Kurang informasi, kurang tanggap, kurang peka terhadap.





b. Penemuan sebab-sebab masalah (etiologi)
Langkah ini merupakan upaya penentuan dari sumber penyebab timbulnya masalah. Yakni diantaranya mencari hubungan antara masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang. Dengan melihat hasil identifikasi masalah dapat timbul dari dalam diri dan luar diri klien.
Penyebab yang berasal dari diri klien antara lain; gangguan kesehatan, kebiasaan-kebiasaan buruk, sikap negatif, kurangnya informasi, kemampuan intelektual yang rendah dan lain-lain.
Penyebab yang berasal dari luar diri klien antara lain; sikap orang tua/guru yang tidak menunjang perkembangan klien, lingkungan rumah/sekolah yang tidak sesuai dengan karakteristik klen, dan dukungan sosial ekonomi yang kurang menunjang, serta masyarakat yang tidak kondusif.

tak selamanya yg berkilau itu indah

disetiap hari-hariku tak mau lagi mengulangi kesalahan yang sama
apa yang kurasa, ku rindu hilang sekejap mata,
sesaat yang kau berikan
kini kau pergi dan kau tinggalkan,
tak selamanya yang berkilau itu indah....

SATLAN BIMBINGAN KLASIKAL 1


SATUAN LAYANAN BIMBINGAN KLASIKAL
1.      Bahasan / Topik Permasalahan                  : Cara mengukur prestasi belajar
2.      Bidang Bimbingan                                                : Belajar
3.      Jenis Layanan                                            : Informasi
4.      Fungsi Layanan                                         : Pemahaman dan pengembangan
5.      Sasaran Layanan / Semester                      : Kelas VII F/ Genap
6.      Tempat Penyelenggaraan                          : Ruang Kelas VII F
7.      Waktu Penyelenggaraan                            : Rabu, 11 April 2012 ( 11.00-11.45 WIB )
8.      Kompetensi yang ingin dicapai                 : Memiliki pengetahuan dan pemahaman serta                                                                   dapat mengembangkan prestasi belajar di                                                                              sekolah
9.      Uraian Kegiatan                                        :
·      Strategi penyajian                     : Klasikal
·      Materi                                       :  1.  Pengertian / definisi prestasi belajar
   2.  Cara mengukur prestasi belajar
   3.  Jenis dan indikator prestasi belajar  
10.  Tempat Penyelenggaraan                          : Ruang kelas VII F
Kegiataan
11.  Penyelenggara Layanan                            : Mahasiswa ( Miftakhul Shifa )
12.  Pihak yang disertakan                               : Guru pembimbing dan guru mata pelajaran
13.  Alat dan perlengkapan yang digunakan    : Sumber yang relevan yang digunakan                                                                              dengan materi kegiatan layanan
14.  Uraian Kegiatan                                        :
a.    Kegiatan Pendahuluan            : Pembukaan, menjelaskan topik serta tujuan                                                                bimbingan
b.    Kegiatan Inti                           : Mahasiswa menjelaskan konsep mengenai                                                     definisi prestasi belajar, cara mengukur                                                          prestasi belajar serta menjelaskan jenis dan                                                       indikator prestasi belajar
c.    Kegiatan Penutup                    : Mahasiswa memberikan penguatan kepada                                                                siswa.

15.    Rencana Penilaian                                    : Penilaian jangka pendek dengan                                                                                      menggunakan angket, dan jangka panjang                                                                             dengan melihat perkembangan siswa                                                                                 sebelum dan sesudah pemberian layanan
16. Catatan Khusus                                         : Siswa diharapkan mampu meningkatkan                                                                          prestasi belajarnya di sekolah

                                                                                                             Tegal, 11 April 2012
Mengetahui,
     
            Pemberi Layanan                                                                      Koordinator Guru BK


Miftakhul Shifa                                                                             Fatkhuro, S.Pd
            NPM 1110500092                                                           NIP. 19620506 198601 1 009